Judul
Buku : Anne of Green Gables
Penulis : Lucy Maud Montgomery
Penerjemah : Maria M. Lubis
Penerbit : qanita
Cetakan : IV, Mei 2009
Tebal : 513 halaman
Buku
Anne of Green Gables merupakan pembuka dari heksalogi Anne yang meliputi Anne
of Green Gables, Anne of Avonlea, Anne of The Island, Anne of Windy Poplars,
Anne’s House of Dream, dan Anne of Ingleside sebagai penutupnya. Keenamnya
mengisahkan lika- liku kehidupan Anne, gadis kecil berambut merah, mulai dari
buku pertama Anne of Green Gables, yang menceritakan kedatangan Anne di Desa
Avonlea khususnya di Green Gables. Di buku kedua, Anne of Avonlea menceritakan kehidupan
Anne selepas sekolah. Setelah lulus dari Akademi Queen, Anne memilih untuk
mengabdikan diri di Sekolah Avonlea dan menghadapi murid- murid yang luar
biasa. Dilanjutkan oleh buku ketiga, Anne of The Island mengisahkan kehidupan
Anne jauh dari Green Gables, dan Avonlea. Anne melanjutkan studi ke kota lain
dan dipertemukan dengan teman sekolah
Avonlea-nya, Gilbert Blythe.
Buku
keempat,Anne of Windy Poplars, mengangkat kisah cinta antara Anne dan Gilbert
serta segala likunya. Dalam bukunya yang kelima, Anne’s House of Dream,
akhirnya Anne dan Gilbert mengakhiri masa lajang mereka diatas karpet merah
pernikahan dan kembali ke Avonlea. Lama tak dikaruniai putra adalah problema
mereka berikutnya. Sebagai penutup, dalam Anne of Ingleside dikisahkan akhirnya kediaman Anne dan Gilbert diramaikan
ole kehadiran 6 orang anak dengan kenakalan yang berbeda- beda. Ciptaan Lucy M.
Montgomery ini, sekalipun telah berusia lebih dari 100 tahun, tak lekang oleh
waktu dan rajin meraih bestseller pada tiap cetakannya.
Mulanya
dikisahkan sepasang kakak beradik
Marilla dan Matthew Cuthbert yang meminta sebuah panti asuhan untuk
mengirim anak laki- laki yang akan membantu mengurus rumah mereka yang dikenal
sebagai Green Gables. Tak disangka, yang datang adalah gadis kecil berambut
merah dan penuh semangat, Anne. Dengan segala imajinasi Anne dan kata- kata
canggih dari gadis 11 tahun, Desa Avonlea menjadi lebih berwarna karena
kehadirannya. Pembaca dibuat berimajinasi, terpesona sekaligus tergelak dengan
segala tingkah Anne dalam setiap bab yang tersedia. Mulai dari kesehariannya
membantu Marilla, keceriaan yang dialaminya di sekolah bersama teman- temannya,
perseteruan dengan Gilbert, musuh bebuyutannya, hingga interaksinya dengan
penduduk Avonlea.
Sayangnya,
kalimat- kalimat canggih Anne dalam novel ini terkadang menyulitkan pembaca
dalam memahaminya. Tokoh Anne yang digambarkan penuh semangat dan banyak bicara
seringkali menghabiskan 1 lembar novel untuk celotehannya, sehingga pokok
cerita kadang kurang tersampaikan. Tapi, justru karena kalimat- kalimat canggih
Anne itulah, Green Gables dan Desa Avonlea digambarkan dengan sangat
menakjubkan sehingga imajinasi pembaca benar- benar diasah saat membaca novel
ini. Novel ini mengajak kita agar pandai memaknai hidup, senantiasa berpikir
positif dan selalu belajar dari kesalahan. Happy
reading!

