JellyPages.com

Selasa, 05 November 2013

Resensi buku Anne of Green Gables



Judul Buku   : Anne of Green Gables    
Penulis         : Lucy Maud Montgomery
Penerjemah  : Maria M. Lubis
Penerbit      : qanita
Cetakan       : IV, Mei 2009
Tebal           : 513 halaman
          Buku Anne of Green Gables merupakan pembuka dari heksalogi Anne yang meliputi Anne of Green Gables, Anne of Avonlea, Anne of The Island, Anne of Windy Poplars, Anne’s House of Dream, dan Anne of Ingleside sebagai penutupnya. Keenamnya mengisahkan lika- liku kehidupan Anne, gadis kecil berambut merah, mulai dari buku pertama Anne of Green Gables, yang menceritakan kedatangan Anne di Desa Avonlea khususnya di Green Gables. Di buku kedua, Anne of Avonlea menceritakan kehidupan Anne selepas sekolah. Setelah lulus dari Akademi Queen, Anne memilih untuk mengabdikan diri di Sekolah Avonlea dan menghadapi murid- murid yang luar biasa. Dilanjutkan oleh buku ketiga, Anne of The Island mengisahkan kehidupan Anne jauh dari Green Gables, dan Avonlea. Anne melanjutkan studi ke kota lain dan dipertemukan  dengan teman sekolah Avonlea-nya, Gilbert Blythe.
Buku keempat,Anne of Windy Poplars, mengangkat kisah cinta antara Anne dan Gilbert serta segala likunya. Dalam bukunya yang kelima, Anne’s House of Dream, akhirnya Anne dan Gilbert mengakhiri  masa lajang mereka diatas karpet merah pernikahan dan kembali ke Avonlea. Lama tak dikaruniai putra adalah problema mereka berikutnya. Sebagai penutup, dalam Anne of  Ingleside dikisahkan  akhirnya kediaman Anne dan Gilbert diramaikan ole kehadiran 6 orang anak dengan kenakalan yang berbeda- beda. Ciptaan Lucy M. Montgomery ini, sekalipun telah berusia lebih dari 100 tahun, tak lekang oleh waktu dan rajin meraih bestseller pada tiap cetakannya.
Mulanya dikisahkan sepasang kakak beradik  Marilla dan Matthew Cuthbert yang meminta sebuah panti asuhan untuk mengirim anak laki- laki yang akan membantu mengurus rumah mereka yang dikenal sebagai Green Gables. Tak disangka, yang datang adalah gadis kecil berambut merah dan penuh semangat, Anne. Dengan segala imajinasi Anne dan kata- kata canggih dari gadis 11 tahun, Desa Avonlea menjadi lebih berwarna karena kehadirannya. Pembaca dibuat berimajinasi, terpesona sekaligus tergelak dengan segala tingkah Anne dalam setiap bab yang tersedia. Mulai dari kesehariannya membantu Marilla, keceriaan yang dialaminya di sekolah bersama teman- temannya, perseteruan dengan Gilbert, musuh bebuyutannya, hingga interaksinya dengan penduduk Avonlea.
Sayangnya, kalimat- kalimat canggih Anne dalam novel ini terkadang menyulitkan pembaca dalam memahaminya. Tokoh Anne yang digambarkan penuh semangat dan banyak bicara seringkali menghabiskan 1 lembar novel untuk celotehannya, sehingga pokok cerita kadang kurang tersampaikan. Tapi, justru karena kalimat- kalimat canggih Anne itulah, Green Gables dan Desa Avonlea digambarkan dengan sangat menakjubkan sehingga imajinasi pembaca benar- benar diasah saat membaca novel ini. Novel ini mengajak kita agar pandai memaknai hidup, senantiasa berpikir positif dan selalu belajar dari kesalahan. Happy reading!